Cara Mengatasi dan Mencegah Bullying Dari Sisi Orang Tua

Hati saya sedih dengan pemberitaan kemarin. Pelaku bunuh diri yang merupakan korban bully. Saya ingin berkomentar sedikit tentang berita seorang anak SD yang gantung diri di Banyuwangi karena dibully oleh teman-temannya sendiri.

Bocah laki-laki itu masih kelas IV SD, usianya sekitar 9 – 10 tahun. Entah darimana dia mendapat keberanian mengambil seutas tali dan menggantungkan lehernya di pintu dapur rumahnya hingga tewas. Entah berapa lama dia merencanakannya. Entah dimana dia mendapatkan talinya. Berapa lama dia mengamati kapan rumahnya kosong, hingga dia leluasa menggantung dirinya. Arghhhh…

Dia depresi, jiwanya tertekan akibat bullying yang dia terima dari teman-temannya. Dia dihina dan diejek karena sudah tidak memiliki ayah. Menurut ibunya dia sering menangis ketika pulang sekolah atau bermain dengan teman-temannya. Jiwanya yang rapuh tidak sanggup diejek setiap hari.

Sepertinya manusia-manusia jaman sekarang suka sekali mengejek dan menghina orang lain. Mengungkapkan kejelekan dan kekurangan orang lain layaknya memberi sensasi dan kepuasan tersendiri, bullying disampaikan lewat candaan sampai olok-olokan yang serius. Terkadang bullying sampai menyakiti secara fisik. Memukul. Melempar. Mengurung. Meludahi. Bahkan beberapa kasus mengakibatkan luka serius sampai kematian korban bullying.

Peran Orang Tua Terhadap Perundungan

Saya ingin mengatakan pada para orang tua, kita tidak mungkin mengajari orang lain untuk tidak membully, tapi kita bisa mengajari anak kita untuk tidak membully dan melindungi anak kita dari depresi akibat bullying.

Ajarkan pada anak bahwa dia berharga

Selalu ajarkan pada anak, bahwa dia berharga, dia istimewa dengan segala kelebihan dan
kekurangan dirinya. Katakan anda sayang padanya. Orang lain juga istimewa dan berharga, jangan
diejek, jangan dibully. Mereka ciptaan Tuhan. Mengejek ciptaan Tuhan berarti mengejek penciptanya.

Hadir untuknya secara menyeluruh

Bela dan lindungi anakmu ketika dibully. Tidak cukup berkata,

  • “Sabar, Nak. Orang sabar disayang Tuhan.” (Hello… dia sedang butuh pembelaanmu, bukan sayang sayang Tuhan)
  • “Sudahlah, Nak. Biar Tuhan yang membalas.” (Sampai hari raya semut pun, Tuhan tidak akan membalas bully atas anakmu).
  • “Kita orang susah, Nak. Kita tidak bisa melawan mereka.” (Siapa bilang tidak bisa?)
  • “Ya, udahlah, cengeng amat sih? Gitu aja marah. Gitu aja nangis. Cemen kamu.”

Nah loh, anaknya udah ngadu karena dibully malah dibully balik sama Ibunya.

Berdirilah tetap di sisi anakmu ketika dia dibully. Jangan biarkan orang mengatainya, anak yatim,
miskin, hitam, jelek, pendek, gendut, pesek, kurvit, bau, apalagi kalau sampai bullying fisik dengan
memukul, mendorong, mengunci dalam ruangan, mengambil barang-barangnya, memintai uangnya
dan lain-lain.

Bela dia. Peluk anakmu. Katakan,

  • “Papa Mama ada disini untukmu. Akan selalu ada untukmu”
  • “Kamu tidak seperti yang mereka bilang.”

Ambil tindakan yang paling diperlukan

Suruh berhenti orang yang membullynya. Laporkan kepada yang berwajib. Laporkan kepada
Bapak/Ibu gurunya.

‘Jangan diam saja kalau mental dan nyawa anakmu berharga’. Orang yang bisa menyelamatkan
mental dan nyawa anak adalah orang tuanya. Lakukan sesuatu.

Ketika seorang anak yang mengalami bullying tidak mendapat dukungan dan perlindungan dari
orang tua dan keluarganya, maka dia akan mencari dukungan di luar. Dan ketika dia merasa tidak
mendapat dukungan dan perlindungan darimana pun, makanya apa yang dilakukan anak SD diatas
bisa jadi jalan terakhir baginya. Dia menyelesaikan penderitaan dengan caranya sendiri. Mati.

Kalau anak sudah terlanjut depresi akibat bullying gimana? Dia menjadi pendiam, tertutup, suka
menyendiri dan penakut. Sebaiknya cari bantuan profesional seperti psikiater dan psikolog untuk
memperbaiki kesehatan mentalnya. Jangan diam saja, Bapak/Ibu.
Save your children.

Leave a Comment